BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Friday, June 12, 2009

~::INSAN YANG DISAYANGI::~


Sebuah kisah tentang cinta, yang benar-benar cinta telah dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turut menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua,"keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia.Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"."Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini."Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.

Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?". "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyatnya sakit maut ini, timpakan saja semua kesakitan maut ini kepadaku, jangan pada umatku."Begitu sekali cinta kasih Rasul kepada umatnya, adakah kita mengasihi Rasul sepertimana beliau sayangkan kita sebagai umatnya?

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinar itu.

Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Fikirkanlah wahai sahabat- sahabatku sekalian.

Wassalam..-


"KEMATIAN"




Hampir saban hari berita tentang kematian terpapar & terdengar….,adakah dengan berita ini ia akan menyentuh hati????....atau hanya ditangisi apabila ia berlaku???....atau diinsafi di ketika itu sahaja…Marilah kita menyakini bahawa kematian itu pasti akan berlaku walau dimana kita berada,atau diwaktu mana sekalipun(maksiat/ibadah)…..dan INGATLAH!!! Kematian akan menjemput tetamunya bila2 masa sahaja…..Bagaimana persiapan kita???...Renung2kanlah….

“Sesungguhnya ‘Arsy Arr-Rahman’ (singgahsana Tuhan yang Maha Pengasih) tergoncang atas kematian sa’ad bin Muadz.”

Begitu Rasulullah saw. Bersabda ketika Sa’ad bin Muadz akhirya meninggal sebagai syahid perang badar, setelah menunggu luka sekian lama dan dirawat di Masjid Nabawi. Lelaki Anshar itu telah syahid. Dan kesyahidanya entah dengan kekuatan apa hingga ia berhasil menggoncang singgahsana Allah s.w.t. Yang disanggah oleh malaikat.

Sebuah pertanyaan singgah di permukaan ruang hati. Seperti apa ’suasana jiwa’ Rasulullah saw. Ketika beliau menyaksikan detik-detik terakhir sebelum Sa’ad Bin Mu’adz menghembuskan nafas terakhir? Seperti apa pula Muadz hingga kematiannya menggoncang singgahsana Allah, Begitu berertikah peristiwa kematian bagi dunia lain di luar dunia manusia hingga ’Arsy tergoncang atas kematian Sa’ad dan langit tiba-tiba memperlihatkan sejuta kesombongannya untuk tidak menagisi kematian dan kebinasaan orang-orang kafir? Fama bakat ’alaihimus sama’: Dan tiadalah langit menagisi atas kematian mereka.

Siapakah engkau wahai manusia? Wahai jiwa? Wahai raga?

Kenanglah sejenak, saudara-saudaraku, jenak-jenak ketika Bilal bin Rabah mengumandangkan azan diatas ka’bah pada peristiwa Fathu Makkah. Saat jiwa sahabat dan manusia-manusia di situ, larut dalam nama dan kebesaran Allah. Kenanglah, saudara-saudaraku, berapakah harga yang harus dibayar para sahabat Rasulullah saw. Sejak awal beliau menyebarkan dakwah islam hingga akhirnya kembali ke tanah tumpah darah beliau sebagai sang pembebas? Kenanglah sahabat-sahabat yang terbaring sebagi syuhada di perkuburan Baqi’ itu. Kenanglah Sumayyah, Kenanglah yasir, Kenanglah Mus’ab Bin ’Umair, kenaglah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan kenanglah Muadz! Kenanglah semua mereka! Lalu, bayangkan, seperti apakah suasana jiwa mereka kalu saja mereka juga menyaksikan peristiwa Fathu Makkah.

Sekali lagi, kenanglah mereka semua! Sebab rumah islam yang kini kita diami, sesungguhnya dibangun dari tengkorak-tengkorak mereka dan dicat dengan darah-darah mereklah. Mereka adalah ’shuna’ul Hdharah’ (pencipta peradaban) Adalah sebuah keagungan yang tak terlukiskan, ketika Allah berkenan mengantar kepergian mereka dengan goncangan ’Arsy. Dan betapa layak bagi langit untuk menyombongkan diri dan tidak perlu menagisi kepergian orang-orang kafir, para perusak peradapan manusia.

Kematian ternyata bukan peristiwa yang biasa. Ia adalah ’peristiwa peradaban’ yang maha l, yang gaumangnya mengema di langit dan di Arsy. Ia boleh mengharubirukan langit dan membuatnya menagis. Sama seperti ia boleh memarahkan/mermukakan langit dan membuatnya senang.

Saudaraku, ’mahukah’ engkau mengizinkan langit menagisi kematianmu?